Dengan adanya penyampaian-penyampaian mengenai kedekatan emosional dan historikal bisa membantu membina bahkan memperbaiki hubungan kedua negara
Kali ini saya ingin berbagi view saya mengenai peran media lagi setelah tulisan saya sebelumnya tentang Pertarungan Media dalam Tragedi Kapal Mavi Marmara. View saya ini adalah hasil dari apa yang saya rasakan dan saksikan langsung ditambah dengan nonton dari media lain.
Jadi begini ceritanya.
Bermula dari kedatangan tamu yaitu team peliput TV9 Malaysia yang ingin meliput berita tentang Sulawesi Selatan pada umumnya dan Makassar secara khusus, ditambah dengan hasil nonton acara ‘Bukan Jalan-jalan Biasa’ nya tvOne yang pada saat saya menulis ini sedang mewawancarai mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, saya jadi semakin melek tentang begitu pentingnya peran media terhadap situasi masyarakat, khususnya dalam hal ini yang ingin saya beri poin adalah hubungan bilateral dua negara. Contoh yang saya ambil di sini adalah hubungan Indonesia Malaysia.
Ketika TV9 mewawancarai Gubernur Sulawesi Selatan dan ketika tvOne mewawancarai Anwar Ibrahim pertanyaan yang sama ditanyakan pada keduanya, yaitu bagaimana pendapat anda mengenai negara tetangga. Dan keduanya menjawab bahwa masing-masing mempunyai ikatan yang sangat kuat. Terlebih lagi, ketika Gubernur SulSel menyebutkan bahwa secara historis Perdana Menteri Malaysia saat ini adalah juga putra SulSel. Dan Anwar Ibrahim menyebutkan nama-nama para koleganya dulu yang salah satunya adalah Cosmas Batubara.
Apa yang ingin saya garisbawahi di sini adalah apa yang saya rasakan ketika melihat hasil dari wawancara-wawancara tersebut yang disiarkan di stasiun TV masing-masing. Saya melihat bahwa apa yang disiarkan itu bisa membawa pengaruh yang sangat besar dalam membina keharmonisan kedua negara. Dengan adanya penyampaian-penyampaian mengenai kedekatan emosional dan historikal bisa membantu membina bahkan memperbaiki hubungan kedua negara. Dimana jika saya berpikir terbalik, coba misalnya yang disiarkan adalah hal yang terbalik dari apa yang disampaikan oleh masing-masing tokoh, maka tentunya hasilnya pun akan negatif yang justru kontra produktif dalam kaitannya dengan perbaikan hubungan bilateral kedua negara.
Dari sinilah saya berharap agar berita-berita yang diturunkan oleh media massa akan semakin banyak didominasi oleh berita-berita positif yang membantu memperbaiki kehidupan masyarakat. Atau jika tidak, maka saya berharap akan semakin banyak media massa baru yang mengambil sikap sebagai pendidik atau pembina masyarakat untuk menjadi masyarakat yang positif, kuat, dan mandiri. Atau minimal menjadi penyeimbang atas berita-berita yang kontra produktif bagi kehidupan yang baik dan bermutu.
