Sekaitan dengan itu, ada satu hal yang bagi saya cukup menarik, yaitu bagaimana peran media massa dalam hal tersebut
Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan ‘keberanian’ tentara Israel menyerang kapal bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Gaza Mavi Marmara. Kejadian ini begitu hangat diangkat oleh mass media, baik itu cetak maupun elektronik. Kita disuguhkan berita tentang perjuangan para relawan menembus blokade Israel atas Palestina termasuk daerah laut.
Sekaitan dengan itu, ada satu hal yang bagi saya cukup menarik, yaitu bagaimana peran media massa dalam hal tersebut.
Pada kejadian ini ada dua kutub pemberitaan melalui media massa. Kutub pertama, dan yang ini saya rasa paling banyak alias mayoritas, yaitu kutub yang menyalahkan bahkan mengutuk Israel atas kejadian itu. Bagi mereka sangat jelas bahwa Israel telah melakukan tindakan yang sangat tidak berprikemanusiaan karena melakukan penyerangan atas kapal yang memuat ratusan relawan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Gaza, yang mana notabene mereka tidak bersenjata.
Karena pemberitaan itulah saat ini hampir seluruh benua di dunia mengutuk kejadian itu. Mengutuk Israel atas tindakannya yang brutal itu.
Akibatnya, Israel kemudian mencoba membela diri untuk membersihkan namanya. Dan jalan yang ditempuh tidak lain dan tidak bukan melalui mass media.
Di sini bagi saya cukup menarik. Sebab sangat jelas peran media. Di mana walaupun sudah tampak jelas kesalahannya, namun melalui komunikasi media yang dikembangkannya, Israel berhasil meyakinkan pendukungnya bahwa mereka tidak bersalah.
