A Tribute to dr. Ira Made in Notebook*
Duhai, setelah kehilangan saudari dan sahabat kami tercinta, dr. Munirah Said, S.Pd, kami pun harus menanggung beban duka mendalam kepergian dirimu.
Menjulang dalam hidup dan saat meninggal
Kau benar satu mukjizat
Seolah mereka mengitarimu, kala utusan berdiri
Menyeru di hari-hari perjamuan…
Kala perut bumi menyempit
Mereka kubur kemuliaan itu
Mereka condongkan cuaca sebagai kuburmu
Dan kini yang sisa adalah isak-isak tangis
Ada gunduk tanah untukmu, namun tak kukatakan
Sebab kau adalah hujan lebat yang turun menerus
Duhai, bagimu salam dari Sang Rahman
Dengan berkat hat-hati yang wangi
Karena kebesaran jiwamu
Kau selalu meraih penjagaan…
Saudariku…izinkan kami persembahkan syair duka Abul Hasan al-Anbari ini padamu. Sebab engkau pantas mendapatkannya. Siapapun yang mengenalmu tak dapat menyangkal. Memang engkau layak menyandangnya. Namun saudariku, ketahuilah, engkau kembali menoreh duka yang telah hampir kering. Mengalirkan kembali air mata yang hampir pupus. Duhai, setelah kehilangan saudari dan sahabat kami tercinta, dr. Munirah Said, S.Pd, kami pun harus menanggung beban duka mendalam kepergian dirimu. Memikul sedih dan lara mengenang jasa dan kebaikanmu. Semangatmu. Himmah dan cita-citamu. Serta kecintaanmu terhadap Agama ini.
Kami tahu engkau pergi dengan senyum kemenangan. Kami sadar engkau titipkan pada kami titah amanah agama ini. Telah sampai waktunya engkau harus istirahat. Menikmati jerih payah, tetesan keringat dan air mata yang selama ini kau sumbangkan untuk dakwah dan agama Allah. Sebab engkau tahu. Kami pun paham. Bahwa dunia ini bukan tempat istirahat. Bahwa tempat istirahat itu adalah negeri yang sekarang engkau berjalan menuju padanya.
(More …)
