<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Made in Notebook &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://kokomade.com/tag/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kokomade.com</link>
	<description>goresan pena dan ketikan tangan di sebuah notebook</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Mar 2011 01:48:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>A Tribute to dr. Ira Made in Notebook*</title>
		<link>http://kokomade.com/a-tribute-to-dr-ira-made-in-notebook/</link>
		<comments>http://kokomade.com/a-tribute-to-dr-ira-made-in-notebook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2011 01:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koko Made</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[tribute]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kokomade.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Duhai, setelah kehilangan saudari dan sahabat kami tercinta, dr. Munirah Said, S.Pd, kami pun harus menanggung beban duka mendalam kepergian dirimu. Menjulang dalam hidup dan saat meninggal Kau benar satu mukjizat Seolah mereka mengitarimu, kala utusan berdiri Menyeru di hari-hari perjamuan… Kala perut bumi menyempit Mereka kubur kemuliaan itu Mereka condongkan cuaca sebagai kuburmu Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Duhai, setelah kehilangan saudari dan sahabat kami tercinta, dr. Munirah Said, S.Pd, kami pun harus menanggung beban duka mendalam kepergian dirimu. </p></blockquote>
<p><em>Menjulang dalam hidup dan saat meninggal<br />
Kau benar satu mukjizat<br />
Seolah mereka mengitarimu, kala utusan berdiri<br />
Menyeru di hari-hari perjamuan…<br />
Kala perut bumi menyempit<br />
Mereka kubur kemuliaan itu<br />
Mereka condongkan cuaca sebagai kuburmu<br />
Dan kini yang sisa adalah isak-isak tangis<br />
Ada gunduk tanah untukmu, namun tak kukatakan<br />
Sebab kau adalah hujan lebat yang turun menerus<br />
Duhai, bagimu salam dari Sang Rahman<br />
Dengan berkat hat-hati yang wangi<br />
Karena kebesaran jiwamu<br />
Kau selalu meraih penjagaan…<br />
</em></p>
<p>Saudariku…izinkan kami persembahkan syair duka Abul Hasan al-Anbari ini padamu. Sebab engkau pantas mendapatkannya. Siapapun yang mengenalmu tak dapat menyangkal. Memang engkau layak menyandangnya. Namun saudariku, ketahuilah, engkau kembali menoreh duka yang telah hampir kering. Mengalirkan kembali air mata yang hampir pupus. Duhai, setelah kehilangan saudari dan sahabat kami tercinta, dr. Munirah Said, S.Pd, kami pun harus menanggung beban duka mendalam kepergian dirimu. Memikul sedih dan lara mengenang jasa dan kebaikanmu. Semangatmu. Himmah dan cita-citamu. Serta kecintaanmu terhadap Agama ini.</p>
<p>Kami tahu engkau pergi dengan senyum kemenangan. Kami sadar engkau titipkan pada kami titah amanah agama ini. Telah sampai waktunya engkau harus istirahat. Menikmati jerih payah, tetesan keringat dan air mata yang selama ini kau sumbangkan untuk dakwah dan agama Allah. Sebab engkau tahu. Kami pun paham. Bahwa dunia ini bukan tempat istirahat. Bahwa tempat istirahat itu adalah negeri yang sekarang engkau berjalan menuju padanya.<br />
<span id="more-148"></span><br />
Saudariku&#8230;.Engkau adalah saudari, sahabat, murid sekaligus guru bagi kami. Engkau saudariku dalam perjuangan dakwah ini. Menawarkan getirnya hari-hari kami dengan doa dan munajatmu. Merapati kegalauan kami dengan kesungguhanmu. Kami tahu betul harapan terbesar dalam hidupmu. Kebaikan kaummu. Agar mereka sadar akan agungnya agama mereka. Agar mereka menikmati pula kehangatan ukhuwah dan persaudaraan dalam agama ini.</p>
<p>Saudariku, engkau adalah sahabat kami yang bersama tegak dalam shaf-shaf perjuangan. Engkau pun telah kenyang mengecap getir perjuangan ini. Sebab engkau bukan kemarin mulai merasa risaukan terhadap agama ini. Tapi sudah begitu lama. Bahkan pada masa-masa saat kawan-kawan sebayamu justru tenggelam dalam lalai dan syahwat.</p>
<p>Engkau juga murid kami. Karena engkau seorang penuntut ilmu. Kami mengenalmu di majelis ilmu. Walau tak pernah berjumpa langsung. Namun aura semangatmu begitu mewarnai. Gejolak ghirahmu begitu membekas. Bahkan seringkali kami malu terhadap dirimu.</p>
<p>Namun disamping itu semua, tak dapat kami pungkiri, bahwa engkau adalah guru bagi kami. Kami belajar darimu tentang hakikat sebuah ketulusan, istiqomah, kerja keras, kesabaran dan keteguhan di jalan dakwah. Ah, dalam sedih seorang kawan berbisik pada kami, bahwa sewaktu masih di bangku SMA dulu, setiap membersihkan mushollah sekolah, ternyata dirimu telah berada di sana. Shalat dhuha dan baca al-Qur’an. Itu dulu, waktu masih SMA. Dan hal itu terjadi setiap hari….</p>
<p>Namun kini engkau telah pergi. Meski sebelumnya kami harus membohongi diri kami. Bahkan berusaha berhusnu dzon. Bahwa SMS berita kepergianmu hanya sebagai kerjaan orang iseng. Namun cinta kami kepada segala putusan Sang Rahman lebih tinggi dari cinta padamu. Kami harus relakan kepergianmu. Walau hati begitu berat. Biarlah mata kami mengalirkan tetes-tetes air mata duka. Biarlah hati kami dirundung kesedihan mendalam. Namun kami tidak berkata-kata melainkan apa yang diridhai Rabb kami.<br />
Rabb, biarkan kami terus berdo&#8217;a. kendati hati kami belum pernah sesedih ini. Padahal banyak berita-berita duka berseliweran dalam keseharian. Namun tidak untuk hari ini. Hari jum’at 11 maret 2011. Kami bahkan tak sanggup membendung tangis. Tangisan duka mendalam. Tuk seorang saudari, sahabat, murid sekaligus guru kami. Dalam hening, di antara dua khutbah jum’at, kami titipkan doa keampunan bagimu. Dari shaf yang paling belakang kala menyolatimu, hati ini khusyu’ memohon, “Duhai Rabb, ampuni dosa saudariku, rahmati ia, lapangkan kuburnya, dan masukkan ia ke dalam rahmat dan surgaMu…!!”.  </p>
<p>Mengenang saudari, sahabat, murid dan guru kami<br />
dr. Ira yusnita rahimahallah<br />
Abu Raihanah</p>
<p><em>*Tulisan ini adalah persembahan ust. Abu Raihanah</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kokomade.com/a-tribute-to-dr-ira-made-in-notebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Pak Habibie Made in Notebook</title>
		<link>http://kokomade.com/puisi-pak-habibie-made-in-notebook/</link>
		<comments>http://kokomade.com/puisi-pak-habibie-made-in-notebook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 08:41:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koko Made</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kokomade.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik Puisi BJ Habibie utk almarhum istrinya,,, Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik</p></blockquote>
<p><a href="http://kokomade.com/wp-content/uploads/2010/05/p-habibie-n-bu-ainun.jpg"><img src="http://kokomade.com/wp-content/uploads/2010/05/p-habibie-n-bu-ainun-150x150.jpg" alt="" title="p habibie n bu ainun" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-118" /></a></p>
<p>Puisi BJ Habibie utk almarhum istrinya,,,</p>
<p>Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.</p>
<p>Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.</p>
<p>Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.</p>
<p>Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.</p>
<p><span id="more-71"></span><br />
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.</p>
<p>Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.</p>
<p>mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.</p>
<p>Selamat jalan,</p>
<p>Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,</p>
<p>kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.</p>
<p>selamat jalan sayang,<br />
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,</p>
<p>selamat jalan,</p>
<p>calon bidadari surgaku &#8230;</p>
<p>_BJ. HABIBIE_</p>
<p>ref: FB</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kokomade.com/puisi-pak-habibie-made-in-notebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Pernikahan Made in Notebook</title>
		<link>http://kokomade.com/puisi-pernikahan-made-in-notebook/</link>
		<comments>http://kokomade.com/puisi-pernikahan-made-in-notebook/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 11:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koko Made</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kokomade.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah andai diri tidak semulia Rasulullah
tak perlu mendamba isteri secantik Balqis andai diri tidak sehebat Sulaiman
Mengapa mengharapkan suami setampan Yusuf seandainya kasih tak setulus Zulaikha
tidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim andai diri tak sekuat Hajar dan Sarah..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebuah Hadiah yang saya persembahkan untuk kedua adindaku tercinta, Wawan &#038; Yani, di hari pernikahannya</em></p>
<blockquote><p>Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah andai diri tidak semulia Rasulullah<br />
tak perlu mendamba isteri secantik Balqis andai diri tidak sehebat Sulaiman<br />
Mengapa mengharapkan suami setampan Yusuf seandainya kasih tak setulus Zulaikha<br />
tidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim andai diri tak sekuat Hajar dan Sarah..</p></blockquote>
<p><strong>Sebuah Renungan untuk suami istri</strong></p>
<p>Untuk Adindaku Wawan renungkanlah&#8230;</p>
<p>Pernikahan atau perkawinan menyingkap tabir rahasia<br />
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah<br />
tidaklah setaqwa Aisyah pun tidak setabah Fatimah<br />
Justeru isterimu,adindaku, hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah &#8230;</p>
<p>Pernikahan atau perkawinan mengajarkan kita kewajiban bersama<br />
Isterimu menjadi tanah kamu langit penaungnya<br />
Isterimu bagai ladang tanaman kamulah pemagarnya<br />
Isteri kiasan ternak kamu gembalanya<br />
<span id="more-20"></span><br />
Isteri adalah murid kamu mursyidnya<br />
Isteri bagaikan anak kecil kamu tempat bermanjanya<br />
Saat isterimu, adindaku, menjadi madu kamu teguklah sepuasnya<br />
Seketika isteri menjadi racun jadilah engkau penawar bisanya<br />
Seandainya isteri tulang yang bengkok berhati-hatilah meluruskannya &#8230;</p>
<p>Pernikahan atau perkawinan menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa<br />
Untuk belajar meniti sabar dan Ridha Allah SWT karena memiliki isteri yang tak sehebat siapapun<br />
Justeru kamu akan tersentak dari alpa</p>
<p>Engkau, dindaku, bukanlah Rasulullah saw<br />
.. Pun bukanlah Sayyidina Ali Radhiallahu &#8216;Anhu<br />
Engkau, dindaku, hanyalah suami akhir zaman yang berusaha menjadi soleh &#8230; amin…</p>
<p>Untukmu, dinda Yani, renungkanlah&#8230;</p>
<p>Pernikahan atau perkawinan membuka tabir rahasia<br />
Suami yang menikahimu tidaklah semulia Muhammad saw &#8230;<br />
tidaklah setaqwa Ibrahim, Pun tidak setabah Ayyub<br />
ataupun segagah Musa apalagi setampan Yusuf<br />
Justru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita cita membangun keturunan yang soleh&#8230;</p>
<p>Pernikahan atau perkawinan mengajarkan kita kewajiban bersama<br />
Suami menjadi pelindung kamu penghuninya<br />
Suamimu adalah nahkoda kapal kamu pengemudinya<br />
Suami bagaikan pelakon yang nakal kamu adalah penonton kenakalannya<br />
Saat suami menjadi raja kamu nikmati anggur singgahsananya<br />
Seketika suami menjadi bisa jadilah engkau obat penawarnya<br />
Seandainya Suami sedang marah sabarlah memperingatkannya..</p>
<p>Pernikahan ataupun perkawinan mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa<br />
Untuk belajar meniti sabar dan Ridha Allah SWT<br />
Karena memiliki suami yang tak segagah siapapun<br />
Justeru kamu akan tersentak dari alpa</p>
<p>Engkau, dindaku, bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga<br />
pun bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara<br />
Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi solehah &#8230; amin &#8230;</p>
<p>Justru itu wahai kedua dindaku, Wawan dan Yani&#8230;</p>
<p>Janganlah menuntut terlalu tinggi<br />
Seandainya diri sendiri jelas tidak berupaya</p>
<p>Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah andai diri tidak semulia Rasulullah<br />
tak perlu mendamba isteri secantik Balqis andai diri tidak sehebat Sulaiman<br />
Mengapa mengharapkan suami setampan Yusuf seandainya kasih tak setulus Zulaikha<br />
tidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim andai diri tak sekuat Hajar dan Sarah..<br />
-Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi-</p>
<p>Baraakallahu laka, wa baaraka &#8216;alaika, wa jama&#8217;a baynakuma bikhair&#8230;amiin&#8230;</p>
<p>Semoga bermanfaat juga bagi pembaca.</p>
<p style="text-align: right;">[disadur dari berbagai sumber dengan beberapa modifikasi.KM]</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kokomade.com/puisi-pernikahan-made-in-notebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

