Perhatikan kedua ayat ini.

Keduanya mengandung sebuah redaksi kalimat yang sama, dengan pelaku yang sama, namun dalam dua kondisi yang berbeda.

Kalimat yang dimaksud adalah kata seru (memanggil): “Yaa abati” yang memiliki arti “Wahai ayahku”. Kalimat “Yaa abati” sendiri adalah bentuk lain dari kalimat “Yaa abi”, namun memiliki makna yang lebih lembut, halus, dan hormat dari pada panggilan “Yaa abi”.
Pelakunya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
Kondisinya, di ayat pertama ketika Nabi Yusuf masih sangat belia, muda, dan belum memiliki kedudukan.
Di ayat kedua, kondisinya, Nabi Yusuf sudah menjadi Nabi dan memiliki kedudukan sebagai salah seorang pejabat negara.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil ?

Melalui kedua ayat ini Allah Ta’ala, melalui perantara Nabi Yusuf, mengajarkan kepada kita bahwa sehebat apa pun kita, kita tetap adalah anak dari kedua orang tua kita. Maka tetaplah sayang, hormat, dan muliakan mereka bagaimana pun kondisi kita.

Baik ketika kita masih kanak-kanak, di mana kita saat itu memang masih sangat membutuhkan kasih sayang mereka. Terlebih lagi ketika kita sudah dewasa, mandiri, lebih mapan, memiliki jabatan, ataupun lebih terpelajar dari kedua orang tua kita.

Karena tantangannya lebih berat ketika kita sudah merasa lebih hebat dari kedua orang tua kita.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Credit: Asy Syaikh Dr. Khalid bin Utsman as Sabt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here